Rabu, 10 Februari 2016

7 Istilah Bahasa Arab yang Sering Salah Digunakan dalam Percakapan Sehari-hari

1. Muhrim

Kata muhrim di dalam bahasa arab berasal dari akar kata حرم – haruma : menjadi terlarang. Kata ini kemudian berubah bentuk menjadi kata  حرام (haraam), kemudian أحرم – ahrama (pengharaman), kemudian menjadi الإحرام – ‘al ihraamu‘ (ibadah yang ada hal yang diharamkan atasnya, haji atau umrah) dan kemudian محرم – muhrim (orang yang berihram). Intinya dengan jalur perubahan seperti ini, kata muhrim berarti orang yang berihram, bukan orang yang tidak boleh dinikahi seperti yang dipakai di Indonesia.
Orang yang haram dinikahi disebut mahram. Kata mahram berbeda penurunannya dari kata muhrim. Akan tetapi, kedua kata ini dipahami di Indonesia sebagai orang yang haram dinikahi.

2. Penulisan Wallahu ‘Alam

wallahu ‘alam berarti “Dan Allah itu Alam”.
wallahu a’lam berarti “Dan Allah-lah yang Maha Tahu” 
Kata a’lam diambil dari  الله أعلم. Kata a’ yang ditransliterasikan dari ع inilah yang berarti lebih pada kalimat tersebut.

3. Minal Aidin Wal Faizin

Kata minal aidin wal faizin secara literal berarti “dari (yang) kembali dan menang”.
Mungkin jika dikonstruksi, maksudnya bisa menjadi ”Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali (ke jalan Tuhan) dan termasuk orang yang menang (melawan hawa nafsu).” Yang jelas artinya bukan mohon maaf lahir dan batin.
Ucapan “Minal ‘Aidin wal-Faizin” tidak disarankan untuk diucapkan pada hari raya. Disunnahkan mengucapkan sebagaimana yang Rasulullah ucapkan “Taqabbalallahu Minna Wa Minkum” yang artinya “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan”. 

4. Silaturahmi vs Silaturahim

Kata silaturahmi dan silaturahim, merujuk pada bahasa Arab, mempunyai huruf penyusun yg sama. Yang membedakan adalah akhirannya yang otomatis akan mempengaruhi artinya. 
silaturahim = hubungan kasih sayang,  
silaturahmi = penghubung uterus (tali pusar yg menghubungkan ibu dan anak).

5. Idul Fitri artinya kembali suci atau pada fitrah

Sering kita dengar orang mengartikan frasa idul fitri dengan kembali suci atau kembali pada fitrah. Hal ini ditambah dengan gambaran bahwa setelah ramadhan, yang menjalankan ibadahnya dengan baik akan seperti bayi yang baru dilahirkan: suci dan fitrah.
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhori Muslim).
Namun, secara kebahasan this is not the case. Fitri disini maksudnya adalah berbuka atau kondisi tidak berpuasa. Jadi yang dimaksud idul fitri adalah kembali berbuka atau hari raya menyambut berbuka. Karenanya dalam hari idul fitripun kita dilarang untuk berpuasa. Makna fitri dalam arti berbuka bisa kita ambil dengan mudah dalam hadits berikut :
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ.
Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. (HR Bukhori).

6. Penulisan Wa’alaikumsalam

Penulisan yang tepat adalah wa’alaikumussalam karena dipakai untuk menjawab assalamu’alaikum. Kecuali kalau salamnya salamun’alaikum maka tidak masalah dijawab wa’alaikumsalam(un).

7. Penulisan Akhwat

Kata ini merupakan bentuk jamak dari saudara perempuan ukhti atau /ukht/ (أخت).  Tu
lisan jamaknya adalah أخوات yang mestinya dibaca /akhawat/. Dengan demikian, penulisan yang biasa kita lihat ini sebenarnya transliterasi yang kurang tepat. 
akh·wat Ar n (bentuk jamak) 1 saudara perempuan; 2 teman perempuan
Yah, karena negara ini Indonesia memakai bahasa Indonesia, bentuk yang lazim demikian (walau kurang tepat) dan sudah diputuskan menjadi bentuk baku. jika Anda menyebut kata ini kepada orang arab, jangan lupa memakai pengucapan yang benar /akhawat/ (أخوات).

Repost From https://albadrln.wordpress.com/  (With Editing) Barakallah! :)
(With Editing) Barakallah! :)